Monday, November 17, 2008

Belajar Kalah

Sudah jam 23.30. Sambil menunggu rasa kantuk datang, iseng saya nonton breaking news di Fox Channel. Materi berita yang di-run di stasiun itu masih seperti hari-hari sebelumnya. Usulan bailout industri otomotif di AS, follow up pertemuan G20, kebakaran di California, konfirmasi soal kebenaran isu Hillary Clinton sebagai Secretary of State, dan berbagai berita lain seputar krisis.
Tapi ada satu berita yang menarik perhatian saya. Tadi malam, para reporter Fox di lapangan sedang melakukan live report dari berbagai lokasi untuk melaporkan rencana pertemuan Obama dan McCain. Pertemuan itu sendiri dijadwalkan berlangsung jam 12.00 siang waktu setempat di Chicago (Jam 12 malam WIB – tadi malam).
Ini adalah tatap muka pertama diantara keduanya sejak Pemilu 4 November lalu. Keduanya diberitakan sepakat duduk satu meja dan mendukung jalannya pemerintahan mendatang yang efektif.
Pertemuan itu sebetulnya terlihat basa basi, tetapi tetap saja berita itu mengusik perhatian saya.
Sampai sehari sebelum Election Day, black campaign dari kedua kubu begitu gencar dilakukan – melalui iklan TV, email, blog, Facebook, Friendster, sampai lewat Youtube. Model kampanye saling serang dan menjatuhkan seperti itu terlihat begitu panasnya. Tensi terasa begitu tinggi. Menariknya, masyarakat cukup menikmatinya di media.
Masih segar dalam ingatan saya saat berkesempatan meliput Primary terakhir di Montana, awal Juni lalu. Pertempuran yang sebetulnya lebih berat bagi Obama ketika harus berkompetisi dengan Hillary Clinton untuk mendapat tiket dari DNC (Democrat National Committee). Ketatnya persaingan antara kedua kubu saat itu bahkan sempat memunculkan kekhawatiran perpecahan di Partai Demokrat.
Saya sempat meliput langsung Bill Clinton yang berkampanye untuk istrinya di satu aula SMA di Missoula, Ibukota Montana.
Hasil akhirnya sudah kita ketahui bersama. Kerja keras Presiden yang turun karena impeachment itu tak banyak membantu. Hillary kalah. Di salah satu bar di kota kecil itu digelar pesta perayaan atas kemenangan Obama. Sepintas saya melihat beberapa orang terduduk lesu di pinggir jalan. Mereka adalah para pendukung Hillary.
Tapi, perpecahan yang ditakutkan rupanya tidak terjadi. Hillary dengan cepat mengakui kekalahannya dan meminta supporter-nya memberikan dukungan ke Obama. Tidak ada bentrok antar pendukung.
Dua pekan sebelum Election Day saya berada di Washington DC. Media terus menerus memberitakan persaingan antara Obama-McCain. Sebagian dikemas dalam bingkai krisis keuangan. Kedua kubu semakin agresif berkampanye. Tetapi, publik tenang-tenang saja. Sejauh pengamatan saya, bentuk dukungan, harapan, simpati paling-paling hanya keluar dari obrolan di jalanan, atau di kafe-kafe. Diluar itu, kehidupan terlihat seperti biasa saja.
***
Tadi siang, saya baru saja meliput rapat konsultasi antara Pimpinan DPR dengan Ketua-Ketua Fraksi yang membahas rencana renovasi ruang kerja anggota Dewan yang seluruhnya menelan dana Rp33,4 miliar. Ada fraksi yang menolak, ada yang sikapnya tidak jelas. ”Sesuai prinsip demokrasi, kami menyerahkan keputusan ini kepada masing-masing anggota Fraksi kami,” ujar Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar Harry Azhar Azis.
Tadi saya juga menulis berita soal digelarnya delapan sidang kasus sengketa Pilkada di Mahkamah Konstitusi, termasuk Pilkada Jawa Timur, kabupaten Cirebon, Gorontalo Utara, Talaud, Biak Numfor, Luwu, sampai kabupaten Wajo.
Ketika sedang membuat catatan ini, saya kembali mendapat pesan singkat dari humas MK. Rupanya jadwal sidang untuk besok: Sidang sengketa hasil Pilkada Kabupaten Tanah Bumbu, Donggala, Makasar, dan Polman.
Penyelenggaraan Pemilu di negeri ini memang masih perlu terus dibenahi.
Tetapi, dengan berbagai kebrobrokan AS, dan dengan berbagai keunggulan yang kita miliki, rasanya kita juga masih perlu belajar keras untuk ’menerima kekalahan dengan gagah’ sebagai nilai paling dasar dalam berdemokrasi. Mumpung 2009 sudah di depan mata. Semoga belum terlambat. Salam.

Friday, November 14, 2008

Stok menumpuk, Krakatau Steel pangkas produksi

JAKARTA: Produsen baja PT Krakatau Steel memutuskan untuk menurunkan tingkat produksi baja menyusul turunnya tingkat permintaan dari pasar ekspor.
Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengungkapkan penurunan volume produksi terpaksa dilakukan BUMN tersebut karena telah terjadi kelebihan pasokan baja di pasar (over stock).
”Produksi PT Krakatau Steel saat ini sudah terlalu banyak. Padahal pasar domestik sudah penuh,” ujarnya di Bandara Halim Perdana Kusumah seusai melepas keberangkatan rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Amerika Serikat dan Amerika Latin, hari ini.
Dia menjelaskan penurunan tingkat permintaan baja dari pasar ekspor terjadi sebagai dampak dari krisis keuangan global.
Namun Sofyan menegaskan keputusan untuk menurunkan produksi baja tersebut hanya bersifat sementara mengingat stok yang sudah terlalu banyak.
Bersamaan dengan itu, dia menjelaskan saat ini upaya penting yang dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan industri baja nasional adalah dengan menciptakan kebijakan pengawasan perdagangan baja impor secara lebih ketat sehingga produk baja impor ilegal dan baja hasil dumping tidak masuk ke pasar Indonesia.
”Dengan langkah tersebut, kebutuhan baja di dalam negeri akan dapat dipenuhi dari pasokan dalam negeri juga.”
Dari catatan Bisnis diketahui sejak bulan lalu sedikitnya tiga produsen baja nasional telah mulai memangkas produksi. Langkah itu dilakukan menyusul merosotnya konsumsi domestik akibat terhentinya sejumlah proyek infrastruktur dan perumahan.
Selain PT Krakatau Steel, produsen baja lain yang menurunkan produksi adalah PT Essar Indonesia dan PT Gunung Garuda. Ketiganya akan memangkas produksi 20%-25% pada kuartal IV/2008.
Penurunan konsumsi produk baja dalam negeri tersebut diketahui telah diikuti dengan meningkatnya penggunaan produk impor dari China yang harganya lebih murah oleh konsumen.
Konsumsi baja pada kuartal IV/2008 diprediksi hanya mencapai 800.000 ton - 1 juta ton dibandingkan dengan konsumsi pada kondisi pasar normal yaitu sekitar 1,5 juta ton -1,6 juta ton per kuartal. Total produksi perusahaan baja nasional pada periode tersebut diperkirakan menyusut jadi 750.000 ton dari total 1 juta ton per kuartal.

Sunday, October 5, 2008

Waiting for SBY action

President SBY today will hold general meeting to discuss about US financial crisis and find out the anticipation steps need to be taken by Indonesian government.
The meeting will also involve Central Bank, Chamber of Commerce leader, banking people, analyst, and many other related stakeholders.
We will see what will be President action in facing the condition. Will there any real step to be made? We will see.

Thursday, May 29, 2008

Parragut Park, DC


Laila tak mampir di New York, begitu juga saya


Di taman ini aku adalah seekor burung. Terbang beribu-ribu mil dari sebuah negeri mencari musim. Adakah keindahan perlu dinamai?

Saya sudah lupa sama lead Saman yang heboh di tahun 98-an itu. Tapi saya masih ingat nama Central Park yang dipakai setting tempat dalam lead novel Ayu Utami itu.
Sayangnya, selain Laila, tampaknya saya juga bakal tak mampir di New York. Jadwal saya di DC padat sekali. Rasanya harus punya banyak waktu untuk bisa jalan ke New York dari DC.
Tapi mungkin juga tak perlu ke Central Park. Saya juga bisa lihat banyak taman di sini. Bahkan begitu membuka jendela kamar. Selemparan batu dari kamar sudah ada Farragut Square Park.
Kecil memang, jauh lebih kecil dari Taman Menteng ciptaan Bang Yos. Mungkin cuma sebesar Bunderan HI.
Tapi cukuplah untuk sebuah taman, lengkap dengan pohon, tupai, dan burung. Memang tidak seindah kota-kota di Eropa, seperti Kassel, Gotingen, Hannover, Zurich, atau Innsbruch yang jauh lebih klasik, yang selalu dipenuhi burung merpati (Saya tidak masukkan Paris karena terlalu kumuh).
Bangku-bangku di taman kota DC juga banyak ditiduri para homeless, sebagian besar negro, latin, atau Chinese, belum pernah ketemu yang dari Indonesia. Toh itu tidak mengurangi keindahan kota DC.
Saya jadi ingat ke ribuan kilometer dari tempat saya sekarang, ke Jakarta.
Tidak heran, beberapa waktu lalu seorang wartawan AFP (dari Inggris kalo nggak salah) yang mampir ke Jakarta sempat membuat fitur tentang Ibukota kita dengan sangat menyedihkan.
Dengan sangat menyesal, saya kira dalam beberapa hal dia menulis dengan benar. Jakarta cuma punya dua city park, Monas dan Taman Menteng. Yang lain fungsinya hanya basa-basi. Pusat interaksi warga kota sudah beralih ke mal-mal.
Dia masih mencatat banyak indikator lagi yang menjadikan daya saing jakarta dengan kota-kota metropolitan lain di dunia menjadi sangat rendah. Tentunya termasuk transportasi publik yang masih memprihatinkan.
Kebetulan, pesawat dari Minnesota ke DC yang saya tumpangi beberapa waktu lalu terbang agak rendah. Saya jadi bisa lihat dengan jelas lansekap Amerika Serikat yang masih dipenuhi hutan. Tak jauh beda kalau kita lihat dari Google Earth.
Bagaimana dengan Indonesia? Laju deforestrasi sangat menyedihkan. Sebagian memang karena ulah negara maju, tapi tentu kita sendiri yang punya tanggung jawab lebih besar.
Ah sudahlah. Tak banyak berguna memaki negeri sendiri. Mudah-mudahan saja ada yang memulai.
Salam,

Menjelang jam 3 pagi di DC.

Monday, May 26, 2008


People in DC spent their time by doing outdoor activities during long weekend due to Memorial Day. Some of them hang out in Potomac River front area, as seen on the picture. It is the beginning of summer in USA.