Monday, November 24, 2008

Masa kerja BRR di Nias selesai bulan depan

JAKARTA: Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi pada bulan depan akan habis masa tugasnya di wilayah Nias setelah bekerja di pulau tersebut sejak 2005.
Sampai akhir 2008, aset publik yang telah diselesaikan BRR kapitalisasinya telah mencapai Rp2,21 triliun. Sebanyak Rp1,25 triliun dari seluruh aset publik tersebut sudah diserahterimakan.
Direktur BRR regional Nias William P Sabandar mengatakan selama tiga tahun beroperasi, BRR tidak hanya fokus pada pekerjaan rekonstruksi dan rehabilitasi infrastruktur pasca gempa, tetapi juga sekaligus upaya pengentasan kemiskinan.
”Pada saat mau keluar, kita sudah duduk bersama dengan pemerintah kabupaten dan provinsi untuk mengantar proses transisi ini dengan baik,” ujarnya kemarin.
Menurut William, dari total dana yang masuk untuk BRR Nias sekitar Rp5,7 triliun, baik dari pemerintah maupun melalui donor, sampai akhir 2008 sebanyak 89,6% Key Performance Indicator (KPI) yang dikerjakan di Nias telah tercapai. Sebanyak 4,93% KPI pencapaiannya masih di bawah 75%.
Dari data yang dikeluarkan BRR, pekerjaan yang belum diselesaikan antara lain tempat pembuangan akhir sampah, rumah dinas dan paramedis Puskesmas, serta Balai Pengujian Benih Rusak Ringan.
William menjelaskan yang dilakukan BRR di Nias menjelang selesai masa tugasnya pada bulan depan adalah berkonsentrasi menyelesaikan proses transfer aset.
Aset publik yang telah dibangun antara lain berupa 409 km jalan raya, bangunan sekolah, rumah sakit, kantor pemerintah, pelabuhan, hingga bandara.
Pembangunan jalan provinsi yang ditargetkan harus diselesaikan BRR sepanjang 469 untuk jalan provinsi dan 310 km untuk jalan kabupaten, dimana yang sudah terbangun adalah 267 km.
Seluruh aset yang sudah dibangun tersebut akan dikembalikan pengelolaannya kepada pemda maupun instansi terkait lainnya.
Sedangkan aset non publik akan dikembalikan langsung pengelolaannya ke masyarakat setempat, seperti rumah, pelatihan keterampilan, hingga modal bergulir.
Menurut William, dari rekonstruksi rumah sebanyak 19.000 unit yang dimandatkan, sebanyak 20.000 unit rumah sudah dibangun selama masa kerja BRR. ”Tingkat huniannya sangat tinggi, sebab pembangunannya langsung melibatkan masyarakat.”
Dia mengatakan sejauh ini proses transfer aset berjalan lancar. Yang dikhawatirkan akan menjadi kendala setelah transfer berjalan adalah komitmen dan kapasitas dari pemerintah daerah untuk mengoperasikan berbagai fasilitas yang sudah selesai dibangun tersebut.

Tuesday, November 18, 2008

JK: Indonesia belum bisa bicara banyak

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengakui secara ekonomi saat ini Indonesia belum dapat berbuat banyak dalam membantu menyelesaikan krisis ekonomi global.
"Harus diakui, GDP kita masih di bawah 1% dari total GDP dunia," ujarnya dalam diskusi tentang Economic Outlook 2009 yang digelar BNI di Hotel Shangri La, pagi ini.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia memang dapat memberikan pandangan dan gagasan terhadap solusi penyelesaian krisis, tetapi secara ekonomi belum dapat banyak berbicara, lanjutnya.
Meski begitu, Wapres menyambut baik dan optimistis terhadap hasil pertemuan negara-negara G20.
Yang dapat diharapkan Indonesia menurut dia adalah agar perekonomian dunia segera membaik, dimana Amerika Serikat dan Eropa dapat segera mengatasi krisis.
Dengan begitu, kinerja ekspor RI dapat segera membaik, sektor riil pulih, dan likuiditas kembali normal.
Ekonom Universitas Gadjah Mada Tony Prasetyantono menilai adanya pertemuan G20 menunjukkan bahwa negara maju seperti AS dan Eropa sudah tidak mampu mengatasi krisis sendirian.
"Mereka sadar harus ada upaya bersama untuk mengatasi krisis global kali ini," ujarnya.

Monday, November 17, 2008

Belajar Kalah

Sudah jam 23.30. Sambil menunggu rasa kantuk datang, iseng saya nonton breaking news di Fox Channel. Materi berita yang di-run di stasiun itu masih seperti hari-hari sebelumnya. Usulan bailout industri otomotif di AS, follow up pertemuan G20, kebakaran di California, konfirmasi soal kebenaran isu Hillary Clinton sebagai Secretary of State, dan berbagai berita lain seputar krisis.
Tapi ada satu berita yang menarik perhatian saya. Tadi malam, para reporter Fox di lapangan sedang melakukan live report dari berbagai lokasi untuk melaporkan rencana pertemuan Obama dan McCain. Pertemuan itu sendiri dijadwalkan berlangsung jam 12.00 siang waktu setempat di Chicago (Jam 12 malam WIB – tadi malam).
Ini adalah tatap muka pertama diantara keduanya sejak Pemilu 4 November lalu. Keduanya diberitakan sepakat duduk satu meja dan mendukung jalannya pemerintahan mendatang yang efektif.
Pertemuan itu sebetulnya terlihat basa basi, tetapi tetap saja berita itu mengusik perhatian saya.
Sampai sehari sebelum Election Day, black campaign dari kedua kubu begitu gencar dilakukan – melalui iklan TV, email, blog, Facebook, Friendster, sampai lewat Youtube. Model kampanye saling serang dan menjatuhkan seperti itu terlihat begitu panasnya. Tensi terasa begitu tinggi. Menariknya, masyarakat cukup menikmatinya di media.
Masih segar dalam ingatan saya saat berkesempatan meliput Primary terakhir di Montana, awal Juni lalu. Pertempuran yang sebetulnya lebih berat bagi Obama ketika harus berkompetisi dengan Hillary Clinton untuk mendapat tiket dari DNC (Democrat National Committee). Ketatnya persaingan antara kedua kubu saat itu bahkan sempat memunculkan kekhawatiran perpecahan di Partai Demokrat.
Saya sempat meliput langsung Bill Clinton yang berkampanye untuk istrinya di satu aula SMA di Missoula, Ibukota Montana.
Hasil akhirnya sudah kita ketahui bersama. Kerja keras Presiden yang turun karena impeachment itu tak banyak membantu. Hillary kalah. Di salah satu bar di kota kecil itu digelar pesta perayaan atas kemenangan Obama. Sepintas saya melihat beberapa orang terduduk lesu di pinggir jalan. Mereka adalah para pendukung Hillary.
Tapi, perpecahan yang ditakutkan rupanya tidak terjadi. Hillary dengan cepat mengakui kekalahannya dan meminta supporter-nya memberikan dukungan ke Obama. Tidak ada bentrok antar pendukung.
Dua pekan sebelum Election Day saya berada di Washington DC. Media terus menerus memberitakan persaingan antara Obama-McCain. Sebagian dikemas dalam bingkai krisis keuangan. Kedua kubu semakin agresif berkampanye. Tetapi, publik tenang-tenang saja. Sejauh pengamatan saya, bentuk dukungan, harapan, simpati paling-paling hanya keluar dari obrolan di jalanan, atau di kafe-kafe. Diluar itu, kehidupan terlihat seperti biasa saja.
***
Tadi siang, saya baru saja meliput rapat konsultasi antara Pimpinan DPR dengan Ketua-Ketua Fraksi yang membahas rencana renovasi ruang kerja anggota Dewan yang seluruhnya menelan dana Rp33,4 miliar. Ada fraksi yang menolak, ada yang sikapnya tidak jelas. ”Sesuai prinsip demokrasi, kami menyerahkan keputusan ini kepada masing-masing anggota Fraksi kami,” ujar Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar Harry Azhar Azis.
Tadi saya juga menulis berita soal digelarnya delapan sidang kasus sengketa Pilkada di Mahkamah Konstitusi, termasuk Pilkada Jawa Timur, kabupaten Cirebon, Gorontalo Utara, Talaud, Biak Numfor, Luwu, sampai kabupaten Wajo.
Ketika sedang membuat catatan ini, saya kembali mendapat pesan singkat dari humas MK. Rupanya jadwal sidang untuk besok: Sidang sengketa hasil Pilkada Kabupaten Tanah Bumbu, Donggala, Makasar, dan Polman.
Penyelenggaraan Pemilu di negeri ini memang masih perlu terus dibenahi.
Tetapi, dengan berbagai kebrobrokan AS, dan dengan berbagai keunggulan yang kita miliki, rasanya kita juga masih perlu belajar keras untuk ’menerima kekalahan dengan gagah’ sebagai nilai paling dasar dalam berdemokrasi. Mumpung 2009 sudah di depan mata. Semoga belum terlambat. Salam.

Friday, November 14, 2008

Stok menumpuk, Krakatau Steel pangkas produksi

JAKARTA: Produsen baja PT Krakatau Steel memutuskan untuk menurunkan tingkat produksi baja menyusul turunnya tingkat permintaan dari pasar ekspor.
Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil mengungkapkan penurunan volume produksi terpaksa dilakukan BUMN tersebut karena telah terjadi kelebihan pasokan baja di pasar (over stock).
”Produksi PT Krakatau Steel saat ini sudah terlalu banyak. Padahal pasar domestik sudah penuh,” ujarnya di Bandara Halim Perdana Kusumah seusai melepas keberangkatan rombongan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Amerika Serikat dan Amerika Latin, hari ini.
Dia menjelaskan penurunan tingkat permintaan baja dari pasar ekspor terjadi sebagai dampak dari krisis keuangan global.
Namun Sofyan menegaskan keputusan untuk menurunkan produksi baja tersebut hanya bersifat sementara mengingat stok yang sudah terlalu banyak.
Bersamaan dengan itu, dia menjelaskan saat ini upaya penting yang dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan industri baja nasional adalah dengan menciptakan kebijakan pengawasan perdagangan baja impor secara lebih ketat sehingga produk baja impor ilegal dan baja hasil dumping tidak masuk ke pasar Indonesia.
”Dengan langkah tersebut, kebutuhan baja di dalam negeri akan dapat dipenuhi dari pasokan dalam negeri juga.”
Dari catatan Bisnis diketahui sejak bulan lalu sedikitnya tiga produsen baja nasional telah mulai memangkas produksi. Langkah itu dilakukan menyusul merosotnya konsumsi domestik akibat terhentinya sejumlah proyek infrastruktur dan perumahan.
Selain PT Krakatau Steel, produsen baja lain yang menurunkan produksi adalah PT Essar Indonesia dan PT Gunung Garuda. Ketiganya akan memangkas produksi 20%-25% pada kuartal IV/2008.
Penurunan konsumsi produk baja dalam negeri tersebut diketahui telah diikuti dengan meningkatnya penggunaan produk impor dari China yang harganya lebih murah oleh konsumen.
Konsumsi baja pada kuartal IV/2008 diprediksi hanya mencapai 800.000 ton - 1 juta ton dibandingkan dengan konsumsi pada kondisi pasar normal yaitu sekitar 1,5 juta ton -1,6 juta ton per kuartal. Total produksi perusahaan baja nasional pada periode tersebut diperkirakan menyusut jadi 750.000 ton dari total 1 juta ton per kuartal.

Sunday, October 5, 2008

Waiting for SBY action

President SBY today will hold general meeting to discuss about US financial crisis and find out the anticipation steps need to be taken by Indonesian government.
The meeting will also involve Central Bank, Chamber of Commerce leader, banking people, analyst, and many other related stakeholders.
We will see what will be President action in facing the condition. Will there any real step to be made? We will see.

Thursday, May 29, 2008

Parragut Park, DC


Laila tak mampir di New York, begitu juga saya


Di taman ini aku adalah seekor burung. Terbang beribu-ribu mil dari sebuah negeri mencari musim. Adakah keindahan perlu dinamai?

Saya sudah lupa sama lead Saman yang heboh di tahun 98-an itu. Tapi saya masih ingat nama Central Park yang dipakai setting tempat dalam lead novel Ayu Utami itu.
Sayangnya, selain Laila, tampaknya saya juga bakal tak mampir di New York. Jadwal saya di DC padat sekali. Rasanya harus punya banyak waktu untuk bisa jalan ke New York dari DC.
Tapi mungkin juga tak perlu ke Central Park. Saya juga bisa lihat banyak taman di sini. Bahkan begitu membuka jendela kamar. Selemparan batu dari kamar sudah ada Farragut Square Park.
Kecil memang, jauh lebih kecil dari Taman Menteng ciptaan Bang Yos. Mungkin cuma sebesar Bunderan HI.
Tapi cukuplah untuk sebuah taman, lengkap dengan pohon, tupai, dan burung. Memang tidak seindah kota-kota di Eropa, seperti Kassel, Gotingen, Hannover, Zurich, atau Innsbruch yang jauh lebih klasik, yang selalu dipenuhi burung merpati (Saya tidak masukkan Paris karena terlalu kumuh).
Bangku-bangku di taman kota DC juga banyak ditiduri para homeless, sebagian besar negro, latin, atau Chinese, belum pernah ketemu yang dari Indonesia. Toh itu tidak mengurangi keindahan kota DC.
Saya jadi ingat ke ribuan kilometer dari tempat saya sekarang, ke Jakarta.
Tidak heran, beberapa waktu lalu seorang wartawan AFP (dari Inggris kalo nggak salah) yang mampir ke Jakarta sempat membuat fitur tentang Ibukota kita dengan sangat menyedihkan.
Dengan sangat menyesal, saya kira dalam beberapa hal dia menulis dengan benar. Jakarta cuma punya dua city park, Monas dan Taman Menteng. Yang lain fungsinya hanya basa-basi. Pusat interaksi warga kota sudah beralih ke mal-mal.
Dia masih mencatat banyak indikator lagi yang menjadikan daya saing jakarta dengan kota-kota metropolitan lain di dunia menjadi sangat rendah. Tentunya termasuk transportasi publik yang masih memprihatinkan.
Kebetulan, pesawat dari Minnesota ke DC yang saya tumpangi beberapa waktu lalu terbang agak rendah. Saya jadi bisa lihat dengan jelas lansekap Amerika Serikat yang masih dipenuhi hutan. Tak jauh beda kalau kita lihat dari Google Earth.
Bagaimana dengan Indonesia? Laju deforestrasi sangat menyedihkan. Sebagian memang karena ulah negara maju, tapi tentu kita sendiri yang punya tanggung jawab lebih besar.
Ah sudahlah. Tak banyak berguna memaki negeri sendiri. Mudah-mudahan saja ada yang memulai.
Salam,

Menjelang jam 3 pagi di DC.

Monday, May 26, 2008


People in DC spent their time by doing outdoor activities during long weekend due to Memorial Day. Some of them hang out in Potomac River front area, as seen on the picture. It is the beginning of summer in USA.

Tuesday, March 11, 2008

SBY warns ministers to concern on budget

JAKARTA: President Susilo Bambang Yudhoyono warns its ministers who are not joining the trip to stay concerns on annual budget amid the increasing of oil price in international market.
“Mr Yudhoyono asks his economic ministers to keep control the revised annual budget during his journey abroad,” said president’s spokesperson Dino Patti Djalal in Halim Perdanakusuma Airport, yesterday.
President is leaving Indonesia during 10 days and scheduled to visit Iran, Senegal, South Africa, and Uni Emirates Arab.
Along with the president are Secretary of State Hatta Rajasa, Foreign Minister Hassan Wirajuda, Trade Minister Marie Pangestu, dan Religion Minister Maftuh Basyuni.
Also join the group is Senate Vice Chairman Irman Gusman, some parliament members, and Chairman of Chamber of Commerce MS Hidajat.
According to Coordinating minister of economic Boediono, President asks his economic team in cabinet to take action to anticipate the prices increasing on some products in foreign market.

Thursday, January 3, 2008

Peta Jalan Bali masih sisakan banyak catatan


NUSA DUA, Bali: Peta Jalan Bali yang berhasil disepakati Konferensi Perubahan Iklim dinilai masih menyisakan banyak catatan. Sebagian delegasi dan kalangan LSM menilai forum itu belum menghasilkan kesepakatan yang maksimal.

Delegasi RI pada Konferensi Para Pihak ke-13 UNFCCC sendiri menyatakan kepuasannya terhadap hasil akhir yang dicapai konferensi tersebut.

Keputusan Australia untuk meratifikasi Protokol Kyoto dan komitmen AS untuk ikut dalam komitmen penurunan emisi gas rumah kaca pasca 2012 dinilai merupakan keberhasilan penyelenggaraan COP-13.

“Hasil ini sudah melampaui target yang kita tetapkan,” ujar Ketua Delegasi RI Emil Salim kepada Bisnis di Bandara Ngurah Rai, sesaat setelah konferensi ditutup.

Bagi Indonesia, keputusan politik dua negara itu diharapkan dapat mendorong efektivitas penurunan emisi gas rumah kaca dalam skala global.

Menurut dia, Protokol Kyoto sebelum ini sudah berhasil memasukkan negara-negara Eropa dalam kesepakatan penurunan emisi gas rumah kaca, tetapi belum berhasil mengikat AS dan Australia karena kedua negara itu menolak meratifikasi.

Akibatnya, 40% dari CO2 yang dihasilkan kedua negara itu selama ini tidak dapat dikendalikan oleh kesepakatan Protokol Kyoto.

Dengan bergabungnya Australia, berarti emisi karbon yang belum dapat dikendalikan menjadi lebih kecil lagi prosentasenya. Apalagi jika komitmen AS nanti benar-benar dilaksanakan.

Dia menilai perubahan sikap Australia dan melunaknya sikap AS dalam konferensi perubahan iklim sudah dapat dikatakan sebagai suatu kemajuan yang sangat pesat.

Namun, menurut dia, selama George Bush masih menjadi presiden, posisi AS masih belum akan berubah. Perubahan sikap delegasi AS dalam konferensi UNFCCC terjadi karena gencarnya tekanan dari sebagian besar negara di forum tersebut.

Belum memuaskan

Meski begitu, keputusan akhir yang dicapai COP-13 itu sebetulnya belum memuaskan banyak pihak, bahkan sebagian delegasi sendiri. Kalangan LSM juga memberikan banyak catatan terhadap perkembangan di Nusa Dua.

Direktur Eksekutif WALHI Chalid Muhammad menilai COP-13 ditutup dengan hasil yang tidak maksimal karena substansi persoalan terkait dengan kesepakatan penurunan emisi GRK pada negara maju tidak berhasil dicapai.

Terkait sikap negara maju, dia mengatakan seharusnya sejak awal Indonesia dapat membangun blok yang kuat untuk mengatasi tarik ulur AS dan negara-negara Annex 1, karena strategi semacam itu sebetulnya sudah dapat dibaca sejak awal.

Bagi Indonesia, kesepakatan Peta Jalan Bali harus menghasilkan langkah konkrit segera setelah konferensi ditutup, yaitu terkait dengan upaya pengelolaan hutan dan lingkungan secara lebih baik.

Jaringan LSM Oxfam juga membuat sejumlah catatan terhadap isu mitigasi, adaptasi, transfer teknologi, maupun pendanaan yang dicapai COP-13.

Dalam hal mitigasi, Bali Roadmap dinilai sudah memberi jalan terhadap langkah ke depan penurunan emisi.

Namun, keputusan Australia untuk meratifikasi Protokol Kyoto dan komitmen AS untuk jangka panjang masih diragukan dapat mengurangi emisi karbon secara global.

COP-13 juga belum berhasil menyepakati besaran penurunan emisi gas rumah kaca pada negara-negara maju pasca 2012.

Di dalam negosiasi Protokol Kyoto, kisaran reduksi emisi 25%-40% hanya merupakan referensi, bukan target konkrit.

Terkait dana adaptasi, komitmen pada Bali Roadmap dinilai masih belum cukup untuk mendukung kebutuhan adaptasi pada negara berkembang. Negara maju juga tidak terikat mandat untuk menjalankan komitmen itu.

Dalam soal transfer teknologi, meski dicapai kemajuan dalam menjalankan program strategik dan pengembangan teknologi, tetapi Bali Roadmap masih belum cukup memberikan jaminan kepada negara miskin untuk mengadopsi teknologi ramah lingkungan.

Di sisi lain, Bali Roadmap juga menghasilkan kemajuan dalam komitmen pendanaan oleh negara maju, tetapi komitmen itu juga belum bersifat mengikat.

Sunday, July 1, 2007

Dicari: pemberantas korupsi, gaji Rp40 juta

Ini adalah hari-hari yang cukup memusingkan bagi Felia Salim, Rhenald Kasali, Mas Achmad Santosa dan anggota Panitia Seleksi Pimpinan Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi lainnya.
Tak sampai lima hari lagi proses seleksi yang menelan dana Rp 2,9 miliar itu sudah harus ditutup, Tetapi, sejak dibuka 14 Juni lalu jumlah pendaftar baru 142 orang. Jauh dibawah target yang ditetapkan panitia seleksi.
Pansel KPK sampai harus menjemput bola ke berbagai tempat, mulai dari ke kampus-kampus, meminta bantuan LSM, sampai bergerilya ke media massa untuk memperoleh masukan.
Rektor Universitas Islam Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat yang juga menjadi anggota Pansel sampai-sampai tak habis pikir. “Ayo lah. Ini panggilan Ibu Pertiwi. Mana orang-orang yang selama ini berteriak-teriak menentang korupsi?” tantang dia.
Ternyata memang tak mudah mencari talenta yang siap memimpin lembaga super body itu. Buktinya, empat pimpinan KPK saat ini pun sudah tegas menyatakan tak bersedia mencalonkan diri lagi. Alasannya beragam. Mulai dari capek sampai merasa sudah tua.
“Pekerjaan pimpinan KPK ini lebih banyak bersifat pengabdian. Kalau orientasinya mencari kerja, ini bukan tempatnya,” ujar Ketua KPK Taufiequrahman Ruki pada suatu ketika.
Sebegitu sulitkah mencari sosok yang siap memberantas penyakit laten yang menempatkan Indonesia berada di peringkat nomor dua tertinggi di dunia itu?
Kalau melihat pengumuman seleksi yang disebarluaskan panitia seleksi, syarat pendaftaran calon pimpinan KPK sebetulnya tidak terlalu sulit. Antara lain harus berusia antara 40 tahun hingga 65 tahun, berijazah sarjana hukum atau sarjana lain yang memiliki keahlian dalam bidang hukum, ekonomi, keuangan, atau perbankan dan berpengalaman minimal 15 tahun.
Pendaftar juga disyaratkan tidak menjadi pengurus parpol dan bersedia melepaskan jabatannya selama menjadi anggota KPK. Tetapi, melihat tuntutan dan load kerja yang sebegitu tinggi, meski tidak harus menjadi malaikat, pimpinan KPK diharapkan bukan dari golongan ‘manusia normal’.

Fasilitas pimpinan
Apa imbalan yang diberikan bagi pimpinan KPK? Jangan membayangkan mendapat fasilitas seperti direksi BUMN besar atau dewan gubernur BI. Tetapi, kalau menggunakan standar umum, fasilitas yang diberikan tentulah sudah jauh lebih dari cukup.
Menurut SK Menkeu yang dikeluarkan pada Desember 2004, gaji ketua KPK dan wakil ketua masing-masing ditetapkan sebesar Rp36 juta dan Rp34 juta.
Fasilitas itu kemudian diusulkan untuk dinaikkan menjadi sebesar Rp40 juta per bulan untuk ketua KPK sedangkan wakil-wakilnya sebesar Rp36 juta. Gaji tersebut masih harus dipotong untuk tunjangan hari tua (THT) yang akan dibayarkan saat purna tugas. Fasilitas lain yang diberikan adalah tunjangan asuransi kesehatan dan tunjangan transpor. Di luar itu tak ada lagi fasilitas yang diberikan, termasuk mobil dinas dan rumah dinas.
Tetapi, kalau dibandingkan dengan gaji pejabat negara lain, pimpinan KPK memang termasuk yang paling besar.
Sebagai perbandingan, total gaji presiden sebesar Rp62,7 juta, wakil presiden Rp42,1 juta. Ketua DPR sebesar Rp30,908 juta, ketua MA sebesar Rp24,39 juta.
Sedangkan gaji menteri negara, jaksa agung, panglima TNI dan pejabat lain yang setingkat sebesar Rp18,65 juta.
“Tidak perlu khawatir. Fasilitas yang diberikan untuk pimpinan KPK sudah mencukupi,” ujar Wakil Ketua KPK Erry Riyana Hardjapamekas.
Cukup atau tidak, pimpinan KPK memang dituntut untuk tak lagi berorientasi mengejar materi dalam hidupnya.
Hal itulah yang menyebabkan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara Taufiq Effendi yang dipercaya menjadi ketua tim seleksi menambah beberapa kriteria lain. Menurut dia, untuk menjadi pimpinan KPK tak cukup hanya punya kemauan untuk memberantas korupsi, pintar, memiliki integritas, dan berdedikasi. Salah satu syarat utama lainnya adalah tercukupi secara finansial, sehingga tidak terdorong untuk memperkaya diri setelah menjabat. “Yang penting adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya.”
Dalam pandangannya, apabila panitia seleksi memilih orang yang belum tercukupi secara finansial, maka hal itu akan menimbulkan masalah lebih lanjut di dalam tubuh KPK.
Sayangnya, panitia seleksi tidak bersedia merinci parameter yang jelas tentang batas minimal kekayaan calon pimpinan KPK. Mereka hanya mewajibkan setiap calon untuk mengumumkan daftar kekayaannya.

Enggan
Belajar dari pengalaman KPK saat ini, panitia seleksi sebetulnya berharap agar kalangan yang dekat dengan dunia bisnis untuk memperkuat jajaran pimpinan KPK.
Menurut Rhenald, KPK sangat membutuhkan tenaga dan pikiran dari pebisnis untuk duduk sebagai jajaran pimpinan.
Alasannya, kalangan dari dunia usaha tentunya memiliki pengetahuan yang sangat memadai terhadap praktik kejahatan kerah putih seperti di lantai bursa atau praktik rekayasa keuangan.
Sayangnya, sampai saat ini tak banyak kalangan dunia usaha yang terpanggil untuk bergabung ke dalam KPK. Rhenald menduga kurangnya minat pebinis untuk masuk ke dalam bursa pimpinan KPK disebabkan oleh sikap kehati-hatian para pebisnis yang enggan memasuki wilayah hukum. Padahal para pebisnis merupakan salah satu aset penting yang perlu didudukkan dalam jajaran pimpinan KPK.
Banyak argumentasi lain yang disampaikan terhadap minimnya minat masyarakat untuk mendaftar dalam seleksi pimpinan KPK.
Menurut Ketua Masyarakat Profesional Madani Ismed Hasan Putro, kinerja KPK saat ini yang dinilai banyak pihak di bawah ekspektasi karena tidak cukup punya gigi membuat sebagian masyarakat menjadi apatis terhadap lembaga ini. Hal itu juga yang membuat sebagian kandidat malas mendaftar.
Problem lain adalah dalam proses seleksi. Dalam penjaringan kali ini, tahapan seleksi meliputi masalah administrasi, tes psikologi, membuat makalah, profile assesment test, dan wawancara. Panitia akan memilih 10 calon untuk disampaikan ke Presiden.
Setiap calon kemudian harus menjalani fit and proper test di DPR. Banyak calon potensial yang buru-buru pesimistis terhadap proses ini. Seleksi di DPR dikhawatirkan akan syarat dengan kepentingan politis.
Praduga lain yang agak membesarkan hati, mungkin para kandidat masih menimbang-nimbang atau mengumpulkan dokumen-dokumen yang menjadi syarat pendaftaran. Panitia berharap agar jumlah pendaftar akan berbondong-bondong menjelang deadline, tentu dengan kualifikasi yang diharapkan.
Kalau masih tetap sepi peminat, mungkin memang sudah sulit mencari orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri di negeri ini.

Tuesday, May 15, 2007

Tour Eiffel


It was about 8 pm in Paris. I was in the journey cruising rue de seine - the biggest river in Paris city.
Many tourists were in the boat. They were all cheers and happy... Wave their hands to some couples sitting in the river side.
Mais J'ai seule dans le bateau bus...
Anyway, It was the best time to see Tour Eiffel. The sky was not too dark, but Eiffel has already sparkling with its lights.
Paris je t'aime....

Tuesday, April 24, 2007

Bus Rapid Transit


Inspite of build Mass Rapit Transportation (MRT) or monorail, Jakarta government has already decide to implement the Bus Way system as its public transportation. We usually call it TransJakarta or Busway. But yesterday Jakarta governor give new name for the transportation system as 'Bus Rapid Transit'. Well, it just seems similar between MRT and BRT.

So far, the implementation plan of subway and monorail is not clear enough. Both of the two systems are still facing financial problem.

However, Jakarta people really need integrated transportation system. The traffic jam in the city already make Jakartan headache and suffered loose Rp12,8 trillion per year.

What we hope, the system must keep improve and covers wider area. Jakarta people really need safe, cheap, rapid and comfortable public transportation. Its the only solution to reduce people using own vehicle and move to public transportation. At the end, the traffic jam 'nightmare' in Jakarta can be offered.

Monday, April 23, 2007

Jakarta is over load




It's only three months after the big flood attacking 70% of Jakarta area. Almost 5% of 10 million Jakarta citizen had to be refugees because they lost their home. The economic damage of the flood was estimated Rp4,1 trillion.


Now, everybody seems already forgotten about the disaster. The river maintenance is stop. The waste management is not improved, even the people still not aware to keep clean their environment. The politician is now busy for the next election, but most of us forget to improve the city. What we can see now is Jakarta has already overload. So, there will be no solution but stop the development in the city! On the contrary, all the activities have to be moved to the other provinces and villages to stop people from the rural area coming to Jakarta.




Singapore, supermarket of tourism


Singapore is really a supermarket for tourism. The city offers almost everything: shopping, meeting and conference , art and culture, kids world, resorts. You can have fun with your children in Sentosa Island, watching romantic opera with your couple in Esplanade, shopping in Orchard Rd or Bugis Street, even you can clubbing in the Ministry of Sound. The Singapore government currently is planning to hold F1 circuit in the city street and casino in one of its island.

Unfortunately, Singapore is not heaven for tourist who looking for sex service. Even Singaporean prefer to go to Bintan Island to enjoy the kind of intertainment.

Three options for Jakarta people


Jakarta people will have three options for the next governor election. After big coalition lead by Golkar Party, PDI-P, and Demokrat Party named Fauzi Bowo as their candidates and Adang Daradjatun-Dani Anwar as candidates from PKS, today PAN and PKS agreed to give their support to an alternative candidates named Sarwono-Jeffrie Giovani. "I will campaign for the clean Jakarta," said Sarwono.

However, the new coalition still have looking for more support from other party. So, who will be the next 'Jakarta governator'? We'll see.

Saturday, April 21, 2007

Introduction

Hi there..
In this simple blog you will get information and story about my journey, traveling, dining, and my notes about the city.
This is an open forum. So, you can response, give comment, or add more information about related topics.

Cheers...